This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 19 Juli 2016

INTISARI HASIL PELATIHAN KURIKULUM 2013 VERSI 2016

https://1.bp.blogspot.com/-wv43fvtxk94/VoRT0zT-OwI/AAAAAAAAIg8/1xISlgzW_30z6SgMFgJfB5GNUOAOFFnwQCKgB/s320/k13.png

INTISARI HASIL PELATIHAN KURIKULUM 2013 VERSI 2016

Berikut beberapa point penting yang mengalami perubahan, terkait implementasi K13/kurtilas/ kurikulum 2013 edisi 2016 diantaranya;
1.     Nama Kurikulum tidak berubah  menjadi kurikulum nasional tetapi tetap kurikulum 2013 direvisi  yang berlaku nasional.
2.     Penilaian sikap KI 1 dan KI 2 sudah ditiadakan setiap mata peklajaran, hanya agama dan PPKn  namun KI tetap dicantumkan dalam RPP
3.     Jika ada 2 nilai praktek dalam 1 KD, maka yang diambil adalah nilai tertinggi. Untuk nilai keterampilan (praktek, produk, portofolio) diambil nilai rata-rata. Untuk pengetahuan bobot  hasil penilaian harian (HPH), hasil penilaian tengah semester (HPTS) dan hasil penilaian akhir semester (HPAS) ditetapkan oleh satuan pendidikan.
4.     Penataan kompetensi yang tidak dibatasi pemenggalan Taksonomi Proses Berpikir (Mengingat, Memahami, Menerapkan, Menganalisis, Mengevaluasi dan Mencipta; Faktual, Konseptual, Prosedural dan Metakognitif) pada jenjang, SD, SMP dan SMA/SMK.
5.     Pendekatan Scientific  5M bukanlah satu-satunya metode saat mengajar dan apabila digunakan maka susunannya tidak harus berurutan. Namun 5M merupakan proses berpikir yang perlu dilatihkan secara terus menerus melalui pembelajaran agar siswa terbiasa berpikir secara Scientific.
6.     Silabus K13/kurtilas edisi  revisi lebih ramping hanya 3 kolom, yaitu KD, materi pembelajaran dan kegiatan pembelajaran. Silabus yang disiapkan pemerintah merupakan salah satu model untuk member inspirasi, Guru dapat mengembangkannya sesuai dengan konteks yang relevan.
7.     Perubahan terminologi  ulangan harian menjadi penilaian harian, uas menjadi penilaian akhir semester untuk  semester 1,  dan penilaian akhir tahun untuk semester 2. Dan tidak ada lagi uts,  langsung ke penilaian akhir semester.
8.     Dalam RPP K13 edisi revisi tidak perlu disebut nama metode pembelajaran yang digunakan  dan materi  dibuat dalam bentuk lampiran berikut dengan rubrik penilaian (jika ada).
9.     Skala penilaian K13 edisi revisi menjadi  1 - 100. Penilaian sikap diberikan dalam bentuk predikat dan deskripsi. KKM ditetapkan oleh sekolah dengan skala 100.
10.  Buku lama kurikulum 2013 tetap dapat digunakan sebagai sumber belajar. Buku teks pelajaran pemerintah bukan satu-satunya sumber belajar utama. Penerbitan buku teks pelajaran dapat dilakukan oleh Kemdikbud atau swasta  (Permendikbud No. 8 tahun 2016)
11.  Remedial diberikan kepada  siswa yang kurang, namun sebelumnya siswa diberikan pembelajaran ulang. Nilai remidi adalah nilai yang dicantumkan dalam hasil.

IK Kota Mataram Mapel PKn
Drs. Damri Ahmad

Guru SMPN 12 Mataram

Minggu, 17 Juli 2016

Arti dan makna Wawasan Wiyata Mandala

MASA PENGELANAN LINGKUNGAN SEKOLAH
PESERTA DIDIK BARU
( MPLPB )
SMP NEGERI 12 MATARAM 2O16

Arti dan makna Wawasan Wiyata Mandala

Drs. Damri Ahmad

  1. Arti Wawasan Wiyata mandala
Secara harfiah kata wawasan mengandung arti pandangan, penglihatan, tinjauan atau tanggapan inderawi. Secara lebih luas dapat diartikan suatu pandangan atau sikap mendalam terhadap hakikat. Selain menunjukkan kegiatan untuk mengetahui isi, juga melukiskan cara pandang, cara lihat, cara tinjau atau cara tanggap inderawi.
Kata Wiyatamandala terdiri dari dua bagian kata, yaitu “Wiyata” dan “Mandala”. Kata “Wiyata” mempunyai arti pelajaran atau pendidikan, sedangakan kata “mandala” mengandung arti bulatan, lingkaran, lingkungan daerah atau kawasan. Jadi kata “Wiyatamandala” mengandung arti lingkungan pendidikan/pengajaran. Dengan demikian “Wawasan Wiyatamandala” diartikan sebagai suatu pandangan atau tinjauan mengenai lingkungan pendidikan/ pengajaran. Sekolah merupakan Wiyatamandala berarti bahwa sekolah adalah lingkungan pendidikan.
Berdasarkan pokok pengertian tersebut, maka “wawasan Wiyatamandala” adalah cara pandang kalangan pendidikan pada umumnya dan perangkat atau warga sekolah pada khususnya tentang keberadaan sekolah sebagai pengemban tugas pendidikan di tengah lingkungan masyarakat yang membutuhkan pendidikan.
2.      Makna Wawasan Wiyatamandala
Berdasarkan pengertian bahwa Wawasan Wiyatamandala adalah suatu pandangan atau tinjauan mengenai lingkungan pendidikan/pengajaran, maka wawasan wiyatamandala mempunyai makna yang sangat dalam dan strategis sebagai lingkungan pendidikan. Makna itu menuntut sekolah untuk :
1. Memiliki sarana dan prasarana yang cukup dan baik ;
2. Memiliki tenaga edukatif berpribadi teladan, terampil serta berpengalaman/berwawasan luas;
3. Terciptanya lingkungan aman, bersih, sehat, tertib, indah, harmonis, sejuk dan segar;
4. Tumbuhnya partisipasi, kerjasama, dan dukungan masyarakat sekitar;
5. Adanya hubungan harmonis secara timbal balik antara orang tua dengan para warga sekolah;
6. Terciptanya disiplin para warga sekolah mentaati segala peraturan dan tata tertib sekolah;
7. Adanya hubungan kekeluargaan para warga sekolah yang akrab dan harmonis; dan
8. Tumbuhnya semangat peserta untuk maju, semangat juang dan bekerja keras.
Apabila hal-hal tersebut terpenuhi dan terbina baik, maka keberhasilan pendidikan akan terwujud dan menghasilkan tenaga kader pembangunan bangsa dan sumber daya manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
3.      Sekolah Sebagai Lingkungan Pendidikan
Sekolah sebagai lembaga pendidikan mengandung satu pengertian pokok bahwa sekolah mempunyai tugas dan fungsi untuk menyelenggarakan proses/ kegiatan pendidikan. Kegiatan tersebut dilaksanakan secara terencana, tertib, dan teratur sehingga usaha untuk menghasilkan tenaga-tenaga terdidik dan terampil yang senantiasa diperlukan bagi pelaksanaan pembangunan dapat terwujud.
Sekolah sebagai pusat pendidikan, lahir, tumbuh dan berkembang dari dan untuk masyarakat. Sekolah sebagai lembaga pendidkan merupakan perangkat masyarakat.
Pada sisi lain keberadaan sekolah sebagai lembaga sosial yang terletak di tengah-tengah masyarakat, memungkinkan pula sekolah menjadi lingkungan pendidikan dengan ciri khas masyarakat belajar di dalamnya.
Tugas penyelenggaraan pendidikan memang tidak mungkin diserahkan sepenuhnya kepada lembaga persekolahan saja, karena pengalaman belajar pada dasarnya dapat diperoleh sepanjang hidup manusia, kapan dan dimanapun. Termasuk di lingkungan keluarga dan di masyarakat. Meskipun demikian, berdasarkan pokok pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa sekolah memang mempunyai peranan yang amat penting sebagai pengemban misi pendidikan. Sekolah sebagai lingkungan pendidikan akan terwujud dengan sebaik-baiknya apabila didukung dan dipenuhinya 7K , sarana dan prasarana, administrasi pendidikan, ketahanan sekolah, disiplin dan tata tertib sekolah. Sekolah dan masyarakat atau pranata pendidikan dan pranata-pranata sosial yang lain harus saling menghargai dan menjalin hubungan yang harmonis karena diantaranya terdapat kaitan saling membutuhkan dan mempengaruhi.
Prinsip-prinsip wawasan wiyata mandala :
• Sekolah merupakan lingkungan pendidikan
• Kepala sekolah bertanggung jawab penuh dalam lingkungan pendidikan di sekolah
• Guru dan orang tua siswa ada saling pengertian untuk mengembangkan tugas pendidikan
• Warga sekolah harus menjujung tinggi citra sekolah
• Sekolah harus bertumpu pada masyarakat dan saling membutuhkan
Ketahanan sekolah
• Letak lingkungan dan sekolah
• Sifat masyarakat
• Sifat manusia yang meliputi
1. Disiplin
2. Tanggung jawab
3. Pengelolaan lingkungan sekolah itu sendiri
Peranan wawasan wiyata mandala
1. Siswa harus melindungi lembaganya dimana dia sekolah
2. Peran siswa terhadap kepala sekolah
3. Peran siswa pada guru karena guru yang mendidik dan melatih
4. Peran siswa terhadap kegiatan-kegiatan sekolah
 Peran dalam intrakulikuler adalah dengan belajar giat sesuai tugas-tugas yang diberikan
 Peran dalam ekstrakulikuler adalah ikut aktif dalam ekstra yang berlaku.

Berdasarkan surat Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah nomor :13090/CI.84 tanggal 1 Oktober 1984 perihal Wawasan Wiyatamandala sebagai sarana ketahanan sekolah, maka dalam rangka usaha meningkatkan pembinaan ketahanan sekolah bagi sekolah-sekolah di lingkungan pembinaan Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen pendidikan dan kebudayaan, menerapkan Wawasan Wiyatamandala yang merupakan konsepsi yang mengandung anggapan-anggapan sebagai berikut.
§  Sekolah merupakan Wiyatamandala (lingkungan pendidikan) sehingga tidak boleh digunakan untuk tujuan-tujuan diluar bidang pendidikan.
§  Kepala sekolah mempunyai wewenang dan tanggung jawab penuh untuk menyelenggarakan seluruh proses pendidikan dalam lingkungan sekolahnya, yang harus berdasarkan Pancasila dan bertujuan untuk:
§  meningkatkan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa,
§  meningkatkan kecerdasan dan keterampilan,
§  mempertinggi budi pekerti,
§  memperkuat kepribadian,
§  mempertebal semangat kebangsaan dan cinta tanah air.
§  Antara guru dengan orang tua siswa harus ada saling pengertian dan kerjasama yang baik untuk mengemban tugas pendidikan.
§  Para guru, di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, harus senantiasa menjunjung tinggi martabat dan citra guru sebagai manusia yang dapat digugu (dipercaya) dan ditiru, betapapun sulitnya keadaan yang melingkunginya.
§  Sekolah harus bertumpu pada masyarakat sekitarnya, namun harus mencegah masuknya sikap dan perbuatan yang sadar atau tidak, dapat menimbulkan pertentangan antara kita sama kita.
Untuk mengimplementasikan wawasan Wiyatamandala perlu diciptakan suatu situasi di mana siswa dapat menikmati suasana yang harmonis dan menimbulkan kecintaan terhadap sekolahnya, sehingga proses belajar mengajar, kegiatan kokurikuler, dan ekstrakurikuler dapat berlangsung dengan menarik dan menyenangkan.
Upaya untuk mewujudkan wawasan Wiyatamandala antara lain dengan menciptakan sekolah sebagai masyarakat belajar, pembinaan Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), kegiatan kurikuler, ko-kurikuler, dan ekstra-kurikuler, serta menciptakan suatu kondisi kemampuan dan ketangguhan yakni memiliki tingkat keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan yang mantap.
4.      Pemahaman Siswa terhadap Wawasan Wiyatamandala
Siswa yang memahami bahwa sekolah adalah lingkungan pendidikan, maka akan bersikap dan berperilaku seperti:
1.    Menggunakan pakaian seragam siswa sesuai ketentuan sekolah dan tata cara penggunaannya.
2.    Membawa/memiliki barang/bahan ke sekolah yang berkaitan dengan kebutuhan belajar.
3.    Berpenampilan/prilaku sebagai seorang siswa yang prima.
4.    Bangga dengan sekolah pilihannya, termasuk seragam dan atributnya
5.    Senang dan nyaman berada di lingkungan sekolah
6.    Bergaul dengan semua warga sekolah sebagai teman yang saling membutuhkan dan menyenangkan
7.    Menghormati dan menghargai bapak/ibu guru/pegawai sebagai orang tua di sekolah
8.    Murah senyum, sapa dan salam kepada siapa, kapan dan dimana saja
Siswa yang memahami bahwa sekolah adalah lingkungan pendidikan, maka tidak akan bersikap dan berperilaku seperti :
1.    Menggunakan pakaian seragam siswa tidak sesuai ketentuan sekolah dan tata cara penggunaannya.
2.    Membawa/memiliki barang/bahan ke sekolah HP, Cermin, Jaket, Sepeda motor.
3.    Bersolek/berhias, cat rambut, badan ditato, baju/celana digambar, teman diperas dan ditampar .
4.    Suka bertandang ke sekolah lain tanpa keperluan, menggunakan seragam dan atribut sekolah lain
5.    Sering terlambat datang dan pulang sering membolos
6.    Menganggap semua warga sekolah adalah teman yang membosankan dan harus dijauhi
7.    Menjauhi dan menghindari bapak/ibu guru/pegawai
8.    Sangar, menantang, mencari musuh, jago kelahi dan membentuk geng



Jumat, 01 Juli 2016

TATA KRAMA SISWA

TATA KRAMA SISWA
Drs. Damri Ahmad

A.   TUJUAN
Setelah mengikuti materi kegiatan ini, siswa diharapkan   :
Dapat menerapkan tata krama berbicara, tata krama pergaulan dan tata krama berpenampilan yang baik.
B.        Pengertian dan Prinsip-prinsip tata karma
Secara harfiah tata karma terdiri dari dua kata yaitu tata dan karma. Tata berarti adat, aturan, norma atau peraturan. Sedangkan karma berarti cara, langkah, tindakan, kelakuan atau perbuatan yang baik.
Dengan demikian tata karma adalah tata cara, sopan santun, tata susila. Sebutan lain dari tata karma adalah etiket atau etika. Keduanya berasal dari Bahasa Yunani kuno, yaitu ethikos dan ethos berarti cara yang baik, kesusilaan, tata karma.
Tata karma terdapat dan diperlakukan dimana saja, dahulu, sekarang dan yang akan datang. Pengalaman menunjukkan bahwa tata karma dapat menciptakan kelancaran, kebaikan, keselarasan, kedamaian, kebahagiaan dan keselamatan.
Perwujudan tata karma dalam pergaulan khususnya bagi siswa, ada 3 yaitu:
1.    Tata Krama di lingkungan rumah (dalam keluarga)
Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam pembentukan jati diri dan kepribadian seseorang yang berhubungan langsung dengan anggota keluarga. Contoh:
a.    Menghormati orang tua dan melaksanakan perintahnya dengan baik
b.    Menyambut ajakan orang dengan wajah yang riang dan gembira
c.     Menghormati orang yang lebih tua dan menghargai yang lebih muda
d.    Bila diajak berbicara harus memperhatikan dan menatap wajahnya
e.    Minta izin (pamitan) pada orang tua waktu berangkat sekolah (berpergian )
f.     Mengucapkan salam (permisi) bila masuk dan keluar rumah
2.    Tata karma di lingkungan sekolah
Sekolah merupakan tempat bersosialisasi penting anak dalam lembaga formal yang memiliki aturan yang harus dipatuhi. Contoh :
a.    Bersikap sopan pada guru, pegawai dan tamu sekolah
b.    Mengucapkan salam bila bertemu guru, pegawai dan sesama siswa
c.     Saling menghargai antar sesama siswa
d.    Mematuhi tata tertib sekolah
3.    Tata karma di lingkungan masyarakat
Sebagai control sosial yang berangkat kebiasaan, adat istiadat dan norma disebabkan dalam masyarakat yang berbeda latar belakang serta budayanya. Contoh:
a.    Mengucapkan salam apabila bertemu orang yang lebih tua, saudara dan teman
b.    Membiasakan mengetuk pintu, salam, permisi bila bertamu
c.     Menerapkan tata cara makan untuk menikmati hidangan
d.    Saling menolong sesama tetangga
e.    Mengharagi saran dan pendapat orang lain

C.        Komunikasi dalam pergaulan
Komunikasi adalah proses pertukaran pesan yang dikirimkan seseorang kepada satu atau lebih penerima secara sadar dengan maksud untuk mempengaruhi tingkah laku si penerima. Pesan yang dikirim bisa berbentuk bahasa verbal atau kata-kata dan dalam bentuk non verbal seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh, menggunakan jarak mendekat atau menjauh, sentuhan, pakaian daan segala sesuatu yang dianggap memiliki makna. Kunci pokok keberhasilan komunikasi dalam pergaulan sehari-hari adalah:
a.    Perlakukan orang lain sebagaimana kita diperlakukan
b.    Menyadari adanya perbedaan setiap individu
c.     Perlu membuka diri agar tidak tertutup
d.    Memupuk rasa percaya dan rela berkorban
Adapun bentuk komunikasi meliputi:
a.    Berbicara
b.    Surat
c.     Telepon
d.    Kartu ucapan
e.    Karangan bunga
f.     internet
D.   Jenis-jenis tata karma
Secara garis besar ada beberapa jenis tata karma yang erat kaitannya dalam kehidupan sahari-hari yaitu:
1.                    1.  Tata karma berbicara
         Dalam berbagai hubungan antar manusia diperlukan pembaicaraan antar sesama manusia. Tata             karma dalam pembicaraan antara lain:
a.    Dengan siapa kita berbicara
b.    Menggunakan kalimat yang tepat
c.     Tempat dimana pembicaraan dilakukan
d.    Sikap ketika kita berbicara
Adapun hal-hal yang perlu dihindari:
a.    Memotong pembicaraan orang lain
b.    Menguasai / mendominasi pembicaraan
c.     Tidak menatap/memandang lawan bicara
d.    Tidak memperhatikan pembicaraan orang yang berbicara
2.                    2.    Tata karma pergaulan
           Beberapa hal yang penting dalam etika bergaul antara lain:
a.    Siapa yang dihadapan kita (teman, orang tua, guru)
b.    Tempat dimana pergaulan itu berlangsung
c.     Bagaimana cara kita bersikap dan bertingkah laku
Beberapa bentuk etika pergaulan yang baik:
a.    Memberi salam ketika bertemu seseorang yang kita kenal
b.    Perhatian terhadap orang lain
c.     Mengetuk pintu, salam, permisi sebelum masuk rumah orang
d.    Mengucapkan terima kasih setelah menerima bantuan dari orang lain
e.    Rendah hati, tidak menang sendiri
f.     Mohon maaf ketika melakukan kesalahan
g.    Siap memberi bantuan sesuai kemampuan
h.    Sanggup menyesuaikan diri dengan lingkungan
i.      Melakukan perintah/suruhan dengan lapang dada
3.                   3.    Tata karma dalam penampilan
a.    Berpakaian rapi, pantas dan sederhana
b.    Cara berpakaian disesuikan dengan waktu dan tempat
c.     Berhias, bersolek sesuai acara dan kegiatan
d.    Pas ukuran (tidak terlalu sempit dan tidak terlalu longgar)

e.    Tidak asal mengikuti mode, karena mode belum tentu sesuai dengan keadaan 

Selasa, 14 Juni 2016

Pelatihan GS K13 Mataram Square, 8 - 13 Juni 2016